Pengmas Ilkom UAI
0%Overall Score
Reader Rating 1 Vote
90%

Workhsop Fotografi, Disain Grafis hingga Diskusi Penelitian

Di sebuah saung kayu dengan lantai bambu, menghadap ke pesawahan, sejumlah siswa SMP Jam’iyyatul Mubtadi Cibayawak, antusias menyimak penjelasan tentang bagaimana mengoperasikan kamera DSLR. Riza, tim Ilkom UAI menerangkan sambil memperlihatkan secara langsung pengetahuan dan teknik dasar kamera.

Sesi berbagi pengetahuan dasar kamera ini, merupakan satu dari beberapa rangkaian kegiatan Pengabdian Masyarakat pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Pondok Pesantren Jam’iyyatul Mubtadi, Cibayawak, Pagelaran, Malingping, Lebak—Banten (18-19/ 11/ 2016). Selain dosen Ilkom, kegiatan ini juga melibatkan Staff Laboratorium Ilkom, dan menggandeng trainer dan konsultan pendidikan independen Chairijal Thabrani.

Hari Sabtu, mulai pukul 09.30, tiga sesi digelar secara terpisah. Riza, memberikan materi dasar kamera untuk beberapa siswa yang sehari-hari aktif dalam kegiatan ekstra antara lain sebagai pengelola majalah sekolah.  Di tempat lain, di sebuah kelas sederhana Viand Isword, tim lainya, tak kalah seru menyampaikan materi seputar disain grafis. Sambil membuka-buka dan memperlihatkan majalah buatan siswa SMP, Viand memaparkan dasar-dasar disain dan kemungkinan membuat karya siswa lebih menarik.

Semantara di Majelis Utama—sebuah aula sederhana—Edoardo Irfan didampingi Chairijal Thabrani berdiskusi dan memotivasi siswa terkait pentingnya mencapai pendidikan tinggi, mengenali potensi diri dan berkarier sesuai dengan minat.

’’Seru juga. Di daerah yang seperti ini, dengan segala kesederhanaan yang mereka nikmati dalam proses pendidikan, saya disuguhi pertanyaan-pertanyaan kritis. Tadinya malu-malu. Begitu disentuh sedikit, banyak sekali yang terlibat dalam diskusi,’’ kata Edo, panggilan akrab Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UAI.

Kesan yang sama juga disampaikan Riza dan Viand. Menurut Viand, para siswa sangat bersemangat untuk berkarya. Hanya saja, sejauh ini masih terkendala keterbatasan fasilitas.

’’Kami memeriksa laboratoriumnya. Memang ada komputer, hibah dari pemerintah, katanya. Tapi programnya hanya untuk mengetik. Belum ada program-program untuk kreativitas lainnya, termasuk untuk disain. Kapasitasnya komputernya terbatas,’’ kata Viand.

Selain tiga sesi workhsop singkat dengan siswa, sore hari juga digelar diskusi dengan para guru dengan tema Disain Metodologi Penelitian. Dipandu Nanang Haroni—dosen Ilkom—Edoardo Irfan mengisi diskusi ini. ’’Sebagai guru, kami memiliki kewajiban melakukan penelitian. Khususnya penelitian tindakan kelas. Tapi seringkali, pelatihan-pelatihan metodologi di Dinas yang kami terima kurang memadai. Sesi diskusi ini, sangat membantu,’’ kata Ifat Fatihah, salah seorang guru JMC.

Sementara, malam hari juga digelar diskusi dengan sejumlah mahasiswa dari Sekolah Tinggi Tarbiyah Nurul Hidayah, Malingping. Topik diskusi, seputar pendidikan literasi media dan isu-isu pendidikan lokal pada umumnya.

Semangat Berkreasi

Yayasan Pendidikan Islam Jamiyatul Mutadi Cibayawak (JMC) merupakan payung dari beberapa unit pendidikan: pesantren salafiyah, tahfidz Quran, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SMP dan Madrasah Aliyah. Menurut Asep Badruttamam, Ketua Yayasan JMC, semangat berkreasi para siswa dan santri di sejumlah bidang terbilang tinggi.

Di sekitar Kecamatan Malingping bahkan tingkat Kabupaten Lebak, siswa sering mencatatkan prestasi berbagai lomba seperti MTQ, pidato (dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris), story-telling, puisi, marawis dan drum band. Selain itu, kegiatan lain yang ditekuni siswa sebagai ekstra kurikuler adalah kaligrafi dan teater.

’’Kalau lomba-lomba rasanya, biasa lah juara. Di sekitar sini. Tapi kami juga tidak fokus ke sana, hanya ingin mengembangkan minat dan bakat anak-anak, melatih mental, dan membiasakan mereka berlatih keras agar bisa menampilkan yang terbaik bagi orang banyak. Memang soal sarana, kita terbatas. Tapi ini tidak kita keluhkan. Kita mencoba berjalan saja, semampu kita,’’ kata Asep.

179 kilometer dari Jakarta, di sebuah dusun bernama Cibayawak, membayangkan yayasan ini berjalan dengan fasilitas cukup, pastilah keliru. JMC, dimulai sebagai pesnatren kecil dan kemudian mengembangkan unit-unit pendidikan karena dorongan masyarakat. Belakangan, sejumlah bangunan berdiri karena bantuan pemerintah melalui Departemen Agama. Tentu, ada dana BOS untuk para siswa. Tapi untuk menjadi lembaga pendidikan yang benar-benar mampu melahirkan para lulusan yang siap bersaing, masih dibutuhkan perjuangan dan bantuan tangan-tangan tulus.

’’Pengajar tetap kita terbatas. Tidak mudah mencari sosok-sosok yang ikhlas dan bersemangat memajukan pendidikan, di tengah kehidupan yang makin pragmatis. Tapi kita percaya, dengan niat dan tekad lembaga pendidikan ini akan semakin baik,’’ tutur Asep.

Menurut Asep, selama ini, banyak pihak datang untuk berbagi pengetahuan melalui pelatihan guru dan siswa. ’’Pelatihan-pelatihan, diskusi,workhsop seperti yang diberikan oleh teman-teman dari Ilmu Komunikasi UAI ini sangat bermanfaat bagi kami. Semoga kerjasamanya tidak berhenti di sini,’’ tambahnya. (tim ilkom)