Dr Lestari Nurhajati, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) melaunching bukunya, My Career is Multi Career, 28 Desember 2015. Apa itu multikarier? Bagaimana seseorang bisa menjalani banyak karier seraya tetap profesional?

Apakah Anda seorang memiliki banyak minat dan merasa mampu menjadikan minat-minat itu sebagai karier? Apakah juga, Anda ragu karena umumnya kita diberi petuah agar fokus pada satu hal saja hingga profesional?

Jika jawabannya ya, pertimbangkan keasyikan ini: menjalani hidup dengan banyak karier (multi career). Tahu Angelina Jolie, dong. Bintang Hollywood itu adalah artis, sutradara, penulis cerita, juga seorang humanitarian disamping ibu rumahtangga yang tak kehilangan concern pada anak-anaknya. Atau, tahu Jaya Suprana, kan? Nah, Presiden Komisaris Jamu Jago itu kan juga dikenal sebagai pianis, komponis, penulis, public speaker, TV presenter, kartunis, humorolog, filantrop, pemerhatai masalah sosial, budayawan, dan tentu, pengusaha. Jaya, juga penggagas dan pemilik Museum Rekor Indonesia (MURI).

Orang-orang ini, seperti hidup dengan dengan banyak saklar. Mana karier yang ingin ia nikmati dalam satu masa, tinggal pencet. Atau bahkan dalam periode bersamaan. Jadi, multikarier bukan hanya bisa, tapi semakin lumrah. Dalam sejarah, Leonardo Da Vinci adalah seorang yang sangat multikarier. Hari ini, seperti dua contoh di atas, lebih banyak lagi orang yang menikmati hidup dengan menekuni berbagai profesi.

Bagaimana caranya? Apa yang dibutuhkan untuk menjalani karier yang multi itu? Inilah yang dipaparkan Lestari Nurhajati dan Ardiningtyas Pitaloka dalam buku mereka, ‘My Career is Multi Career’.  Lestari yang juga pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAI, menjadi pembicara utama dalam launching pada tanggal 28 Desember 2015 lalu di Ruang Niaga lt 2 Kampus UAI, Jakarta. Peluncuran dan diskusi buku kerjasama UAI dan Puskakom ini, dipandu Dr Irwa Zakarsyi, dosen Ilkom lainnya.

Dalam diskusi, Lestari—Doktor Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Indonesia—antara lain mengatakan bahwa ia sendiri adalah seorang multikarier. Selain pengajar di universitas dan peneliti berbagai isu komunikasi, Lestari juga adalah seorang creative director, konsultan komunikasi, aktivis demokrasi dan kemanusiaan, penulis dan konsultan karier.

‘’Rekan saya, yang menulis buku ini, adalah juga seorang dengan karier beragam. Ardiningtiyas Pitaloka adalah konsultasn karier,  konsultan sumber daya manusia, dosen psikologi, peneliti, editor, dan reviewer penulisian ilmiah, penulis, dan organisator,’’ kata Lestari, dalam diskusi yang dibuka Rektor UAI Prof Dr Ir Sardy Sar, M.Eng.Sc., itu.

Lestari dan Pitaloka, banyak menceritakan orang-orang yang memiliki berbagai bidang karir dalam hidupnya.   Biasanya orang yang memiliki berbagai bidang karier cenderung dianggap negatif dalam menemukan identitas kariernya. Buku ini mencoba  membuka wawasan pembaca bahwa seseorang dapat menjalani suatu karier tanpa mematikan beberapa minat kariernya.

Dalam sesi tanya jawab, para mahasiswa antusias menyampaikan pertanyaan. Mereka umumnya, berusaha mendapatkan keyakinan tentang kemungkinan menjalani hidup dengan banyak karier dan bagaimana mencapainya.

‘’Terpenting, multikarier, sabagaimana hidup hanya dengan satu karier adalah pilihan. Jadi kalau tidak yakin bahwa Anda akan bisa maksimal dan profesional, fokus pada karier tertentu jauh lebih baik,’’ kata Lestari. (sri rejeki/ red)