Mimpi Warga Tentang Jakarta Tertata
0.0Overall Score
Reader Rating 3 Votes

Dari tahun ke tahun, perkembangan Jakarta memang terlihat. Banyak perubahan yang membuat Jakarta semakin baik. Tapi apakah program yang dijanjikan oleh calon gubernur dan wakil gubernur DKI saat ini cukup menjanjikan, misalnya dari ukuran tata kota ideal?

‘’Bagi saya, jika ukurannya tata kota ideal, janji program belum ada yang menarik,’’ kata Nurul Robbi Sepang, dosen Sosiologi Universitas Al Azhar Indonesia dalam diskusi ‘’Mimpi Jakarta: Lega Tertata’’, kerajasama Prodi Ilkom UAI dan Populi Center, di Lab Film Ilkom UAI (29/11/2016).Ketika era 90-an, pandangan terhadap kota mulai berubah. Yang tadinya kota hanya sebagai pengembangan infrastruktur yang mendukung baik produksi atau perdagangan, berubah menjadi kota terlihat sebagai suatu pusat interaksi dari berbagai macam individu-individu. Mulai dari rumah, tempat rekreasi, dan lain-lain,” jelas Robbi.

Ada perkembangan, tentu, kata Robbi. Tapi tata kota tidak hanya berbicara tentang transportasi, dan ukuran-ukuran fisik yang tampak hebat. Terpenting, ada spirit memprioritaskan manusia dalam proses pembangunannya di berbagai sektor.

Direktur Populi Center, Usep S Ahyar, berpendapat bahwa Jakarta saat ini masih jauh dari julukan kota ideal. Pendapat ini beliau sampaikan pada diskusi Populi Center dengan dosen dan mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia, pada Selasa, 29 November 2016 di laboratorium televisi basement 1 Universitas Al Azhar Indonesia.

Angka pengangguran dan kriminalitas masih tinggi. Jadi ada di suatu tempat di Jakarta, yang saya tahu malah suka tawuran 3 kali sehari seperti minum obat. Lalu masalah pengangguran, orang tidak sibuk sehingga orang melakukan kegiatan tidak bermanfaat yang memicu tindak kriminal,” jelas Usep.

Ditambahkan, seharusnya Jakarta berkarakter seperti sebuah kota dalam konteks madani, yang infrastruktur  dan hubungan antar masyarakatnya baik. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, maka warga Jakarta harus benar-benar teliti dalam memilih calon pemimpin yang akan datang.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Populi Center, 39,2% masyarakat Jakarta memilih calon gubernur dan calon wakil gubernur berdasarkan visi, misi dan program kerja, 29%-30% masyarakat memilih berdasarkan kesukaan terhadap sikap dan kemampuan kepemimpinan, integritas, serta latar belakang, sedangkan sebesar 20% lagi memilih berdasarkan kesamaan identitas (suku, ras, agama, partai politik, dll).

Tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh para Cagub dan Cawagub adalah membuat masyarakat sadar betapa pentingnya penataan kota untuk mencapai Jakarta yang ideal. Karena tidak cukup hanya pemerintah yang menyadari hal tersebut,” tambah Usep.

Populi center melakukan survei dan riset mengenai perilaku pemilu. Melakukan aktivitas diskusi “Perspektif Jakarta”, baik secara on air (kerjasama dengan radio Elshinta setiap hari sabtu pukul 12.00 WIB, dua minggu sekali) ataupun off air (diskusi dengan berbagai universitas dan komunitas) untuk melihat persoalan Jakarta terkait Pemilu).

Sedangkan khusus terkait transportasi, pengamat transportasi Darmaningtyas menyatakan konsep transportasi Jakarta saat ini sudah bagus. Armada terus ditambah, hanya saja dalam pelaksanaannya masih cukup bermasalah, baik dari jalur, fasilitas, maupun manajemennya perusahannya. “Untuk masalah kemacetan, tidak hanya kebijakan dari pemerintah, namun kita sebagai masyarakatnya juga harus konsisten mengurangi penggunaan kendaraan pribadi,” jelas Darmaningtyas.(vania gisella)